IDENTIFIKASI MAMALIA BERDASARKAN MORFOLOGI


 

Identifikasi Satwa (Mamalia) Berdasarkan Morfologi

A.    Pengertian Mamalia

Kata mamalia merupakan ciptaan dari Carl Linnaeus. Mamalia berasal dari bahasa latin mamma yang memiliki arti puting. Kata ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1758. Jadi, Mamalia adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) berdarah panas, dan merupakan kelompok hewan menyusui karena mamalia menyusui anaknya. Mamalia memiliki susunan gigi yang bervariasi dibedakan dengan adanya gigi seri (incisirs), gigi taring (canine) dan gigi geraham (molar). Mamalia memiliki kelenjar susu sebagai sumber makanan. Sebagian besar mamalia berkembang biak dengan cara melahirkan anak-anaknya.

Ciri-ciri Hewan Mamalia

·         Mempunyai kelenjar susu.

·         Mempunyai tulang belakang (vertebrata).

·         Mempunyai anggota tubuh untuk bergerak seperti berenang, berlari dan memegang sesuatu.

·         Mempunyai rambut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

·         Mempunyai kuku atau cakar di bagian jarinya. Kuku atau cakar ini berguna untuk memanjat atau memegang makanan.

·         Mempunyai jenis gigi berbeda, gigi taring, gigi seri dan gigi geraham.

·         Mempunyai alat pernapasan paru-paru.

B.       Identifikasi Mamalia

Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu yang beranekaragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson, identifikasi makhluk hidup berarti suatu usaha menemukan identitas suatu makhluk hidup, identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah sedikit (idealnya satu ciri), akan membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi, sedangkan klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya seluruh ciri-ciri yang dimiliki). Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengidentifikasi jenis Mamalia yang ditemukan dengan cepat dan sistematis, yaitu :

1.   Menentukan kelompok atau suku yang termasuk didalamnya. hal ini biasanya pada awalnya pada saat menentukan bangsa atau ordo seperti primata, rodensia atau karnivora.

2.  Menetukan hewan ini termasuk dalam suku atau family, kemudian subfamily. Contohnya: dalam primata, hewan itu masuk kedalam kelompok lutung, owa atau kera.

3.    Dengan melihat morfologi dan pola warna tubuh hewan tersebut atau mengkonfirmasi dengan spesimen yang bentuknya mirip yang terdapat dilokasi koleksi museum.

4.   Penentuan ukuran tubuh dari masing-masing jenis  dimulai dengan seri pengukuran standar diantaranya yaitu panjang badan dan kepala (Head And Body Length-HBL), Panjang Ekor (Tail-T),Panjang Telapak Kaki Belakang (Hind Foot-H), Panjang Telinga (Ear-E), dan Pengukuran Berat Badan (W). 

Langkah Langkah Pengukuran Pada Mamalia Meliputi :

a)  Panjang tubuh dan kepala ((Head And Body Length-HBL): tikus diletakkan telentang disisi/diatas penggaris, diukur dari ujung moncong sampai pangkal ekor atau rata dengan anus.

b)      Panjang ekor (Tail-T): diukur dari pangkal sampai ujung ekor

c)   Panjang kaki belakang (Hind Foot-H) : diukur dari ujung tumit sampai ujung daging paling panjang apabila kuku ikut diukur harus diberi tanda.

d)     Panjang telinga (Ear): diukur dari pangkal telinga sampai ujung daun telinga tertinggi

e)      Pencatatan jumlah putting susu pada tikus betina dan besar testis pada tikus jantan (P ×L)

g)      Pengukuran anatomi tengkorak.

Untuk identifikasi selain ukuran morfologi luar juga perlu diperhatikan seperti warna, jenis dan ukuran rambut baik punggung, perut lateral dan ekor. Bentuk sisik dan jumlah sisik per 1 cm pada ekor juga dapat dijadikan karakter pembantu dalam identifikasi. Konfirmasi spesies sebaiknya dilakukan dengan pengukuran dan karakter spesifik pada tengkorak. Contoh hewan yang mempunyai sisik yaitu Trenggiling.

Deskripsi dari masing-masing satatus konversi global yang digunakan IUCN atau Uni Internasional Untuk Konversi Alam

·   CR (Critically Endangered/kritis) : kategori ini diperuntukan untuk jenis yang dinyatakan memenuhi kriteria menuju kepunahan dan tengah menghadapi risiko tinggi kepunahan di alam liar dengan tingkat yang lebih ekstrim.

·      EN (Endangered/Genting) : kategori ini diperuntukan untuk jenis yang dinyatakan memenuhi kriteria menuju kepunahan dan tengah menghadapi risiko tinggi kepunahan di alam liar

·    VU (Vulnerable/Rentan) : kategori ini diperuntukan untuk jenis yang diindikasikan sedang menghadapi resiko tinggi kepunahan di alam liar.

·   NT (Near Threatened/ Hampir Terancam) : kategori ini diperuntukan untuk jenis yang dinyatakan berada dalam kondisi mendekati kategori terancam (hamper terancam, rentan , genting atau kritis) pada saat ini dan dinilai akan memenuhi kategori tersebut dalam waktu dekat.

·   LC (Least Concern/Risiko rendah) : kategori ini diperuntukan untuk jenis yang telah dievaluasi informasinya namun belum memenuhi kriteria yang ada pada kategori terancam (hampirterancam, rentan,genting atau kritis)

Contoh :

1.      Banteng (Bos javanicus)


Klasifikasi

Kingdom               : Animalia

Filum                    : Chordata

Class                     : Mammalia

Ordo                     : Artiodactyla

Family                  : Bovidae

Subfamily             : Bovinae

Genus                   : Bos

                                                                          Spesies                 :Bos javanicu

Ciri Khas :

Tinggi pundak 120-170 cm, jantan tinggi 1,9 m dengan bobot berat 825 kg, sedangkan betinanya tinggi 1,6 m dengan bobot badan 635 kg.

a)      Tanduk membentuk huruf  U yang tegak di atas kepala

b)  Bentuk tubuh seperti sapi domestika, warna tubuh jantan hitam atau cokelat. Sedangkan betina tengguli, warna putih dijumpai dibagian pantat dan menyelimuti kakinya sehingga terkesan memakai kaos kaki

c)  Betina lebih kecil dibanding jantan dengan tanduk yang lebih kecil. Banteng asal Kalimantan umumnya mempunyai ukuran lebih pendek atau kecil, banteng dapat di domestikakan , dan terbukti contohnya adalah sapi bali .

Banteng adalah spesies hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan diberbagai wilayah di Asia Tenggara. Banteng aktif pada siang hari dan malam hari, tetapi aktivitas malam lebih umum di daerah yang banyak dikunjungi manusia. Kawasan banteng di alam liar terdiri dari 12 hingga 40 ekor banteng dengan hanya satu pejantan. Banteng adalah hewan dalam golongan herbivora dan memakan berbagai tumbuhan seperti rumput teki, tunas, daun, bunga dan lain-lain.

Komentar